Teknologi Pertanian menurut Perspektif Petani Perempuan

Pendahuluan

tani wntPeran perempuan di sektor pertanian sesungguhnya adalah realita  sejak jaman dahulu kala.  Meskipun demikian, terlepas dari kontribusinya dalam usahatani, umumnya petani perempuan adalah sumberdaya manusia yang masih diabaikan dalam program  pembangunan di negara kita. Di awal tahun 90an hal ini mendorong Wijaya et al. (1994) melakukan suatu action research untuk membuktikan bahwa petani perempuan seharusnya bisa menjadi peserta dalam Proyek Pertanian Lahan Kering . Pengabaian terhadap petani perempuan terjadi pula di kalangan petani  di daerah pertanian semiarid kawasan Nusa Tenggara Timur. Dalam program pembangunan, mereka tidak terdaftar sebagai partisipan proyek pembangunan, baik dalam kegiatan proyek maupun sebagai kelompok target dalam  kegiatan rutin penyuluhan (Nendissa 1992; Akib et al. 1994; Pellokila et al. 1994).

Hingga saat ini belum ditemukan adanya penelitian tentang pembangunan teknologi pertanian yang berorientasi memenuhi kebutuhan petani perempuan. Penelitian yang secara partisipatori melibatkan petani perempuan, agar teknologi itu responsif terhadap kebutuhan mereka, termasuk kebutuhan  peran gendernya dapat dikatakan belum ber-kembang.  Bilamana  diasumsikan keadaan tetap, tak berubah, teknologi pertanian di daerah semiarid dapat diramalkan tetap tidak akan mempedulikan petani perempuan.

Introduksi teknonologi biasanya tidak menguntungkan bagi petani perem-puan. Tidak saja petani perempuan tidak saja tidak terdaftar sebagai sumberdaya yang perlu mendapatkan informasi tentang teknologi baru yang disebar luaskan, namun juga  dampak dari penerapan  teknologi baru terhadap merekapun hampir tak pernah dikaji. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bila teknologi baru diperkenalkan, ternyata teknologi itu tidak ramah pada perempuan. Di waktu revolusi hijau dilaksanakan dengan teknologi padi produksi tinggi misalnya, buruh tani perempuan tergusur dari kegiatan yang semula menjadi pekerjaannya (Collier et al. 1973 ; Wijaya 1985). Sama halnya dengan ketika teknologi penggilingan padi diintroduksi yang mengambil-alih pe-kerjaan yang sebelumnya dilakukan oleh petani perempuan (Timmer 1973). Kehi-langan pekerjaan berati kehilangan pendapatan di kalangan buruh tani perempuan. Analisis mendalam oleh Shiva (1993) nenunjukkan berbagai tindak kekerasan terjadi pada petani perempuan  di masa revolusi hijau.

tani wanitaHill (1986) memperhatikan bahwa perempuan tidak diakui karena mereka tidak banyak muncul dalam statistik, dan pembangunan ekonomi memperkirakan kontribusi perempuan jauh dibawah. Pembangunan pertanian pada umumnya dikatakan banyak hal oleh para ahli belum memperhatikan perempuan (Deere & Leon 1987). Teknologi pada khususnya, boleh dikatakan tidak memperdulikan perem-puan. Dalam bahan bacaan Gender Issues in Agriculture (Walsum 1989), dari 17 artikel, hanya satu yang berkaitan menyinggung perlunya  penelitian teknologi yang berperspektip perempuan petani dalam pembangunan pertanian (Fresco 1985). Dalam Konperensi Dunia tentang  Perempuan dalam Pembangunan I di Nairobi, Kenya, pembagunan teknologi untuk perempuan didiskusikan.Hasilnya tertulis dalam  dokumen PBB tahun 1985 berjudul Nairobi Forward Look ing Strategies for the advancement of Women (FLS) di mana mencakup isu tentang perlunya pelibatan perempuan dalam pengembangan teknologi di sektor pertanian. Sama halnya adalah agenda 21, tahun 1992 tentang perempuan, Lingkungan dan Pembangunan. Castillio (1988) adalah satu-satunya yang dengan tegas menyebutkan hal ini, meskipun terbatas pada komoditas padi. Pandangan nya mendapat dukungan  dari  Saito & Spurling (1992) yang mengungkapkan teknis bagaimana penelitian yang melibatkan perempuan itu bisa dilakukan.

Dalam banyak kasus penelitian, analisis gender belum banyak diaplika-sikan dalam ranah  pembangunan teknologi pertanian. Beberapa penelitian awal di tahun 90an baru mulai menerapkannya (lihat Wijaya et al, 1993,  Mulyadi et al. 1993; Akib et al. 1994; Nendisa et al. 1992; Pellokila et al. 1994). Dengan mempergunakan analisis gender metoda Harvard hasil penelitian berakhir dengan menyatakan bahwa perempuan berperanan penting dalam kegiatan pro-duksi pertanian. Namun umnya reko-mendasi dari penelitian itu terbatas pada peningkatan peran perempuan, kebijakan perkreditan, pelatihan, dan penyuluhan pertanian langsung pada petani perempuan, sementara rekomendasi untuk teknologi belum tersentuh. Untuk mengangkat isu pengembangan teknologi terhadap petani perempuan lewat analisis gender yang peka terhadap kebutuhan perempuan, berikut ini dikemukakan secara singkat apa yang dimaksud disertai teknik analisis gender.

ANALISIS GENDER

Di Indonesia, analisis gender yang paling populer terdiri atas analisis yang dikembangkan oleh para ilmuwan Studi Perempuan di Universitas Harvard  sebagai berikut: Analisis kegiatan (menjawab pertanyaan : siapa melakukan apa?)

  1. Analisis akses dan kontrol pada sumberdaya meliputi pertanyaan: siapa mendapat sumberdaya apa? dan siapa mengontrol sumberdaya apa?
  2. Analisis manfaat, digali dengan pertanyaan: siapa memperoleh manfaat dari proyek pembangunan/kegiatan.

tani wannitaAnalisis yang  membutuhkan data  kuantitatif dan kualitatif ini  mampu mengungkapkan peran gender perempuan dan lelaki, serta kedudukan perempuan. Namun kelemahannya tidak menyentuh teknologi. Hal ini menunjukkan bahwa analisis itu belum cukup untuk mengangkat kepermukaan kebutuhan petani perempuan terhadap teknologi pertanian. Usaha  Saito & Spurling (1992) untuk, mengidentifikasi kebutuhan teknologi perempuan tidak mampu menyebutkan hasilnya. Hal sedemikian juga terjadi dengan beberapa penelitian yang dilakukan di daerah semiarid Indonesia Timur.

Meskipun  analisis gender telah diterapkan dalam penelitian di Nusa Tenggara Timur (Akib et al. 1994; Nendisa et al. 1992; Pellokila et al. 1994), tidak ada implikasi maupun rekomendasi penelitian dikemukakan untuk memperbaiki teknologi pertanian sesuai dengan kebutuhan gender petani perempuan. Mengapa hal itu terjadi? Dugaan saya hal itu disebabkan oleh :

  1. Ketidak cukupan komponen analisis gender untuk menelaah kebutuhan pengembangan teknologi pertanian;
  2. Kurangnya informasi kualitatif;
  3. Belum atau kurangnya kepekaan gender di kalangan peneliti.

Penyebab pertama berkaitan erat dengan komponen gender yang menjadi dasar data yang dikumpulkan. Kerangka analisis gender Harvard yang paling populer nampak tidak mempunyai komponen untuk menggali data yang berkaitan dengan teknologi pertanian. Terbatas pada analisis aktivitas, analisis akses dan kontrol sumberdaya yang berujung pada pengambilan keputusan, analisis kebutuhan teknologi petani perempuan tidak ada, karena data gender tentang teknologi tidak dikumpulkan. Ditambah dengan lemahnya hubungan dan kerjasama dengan pekerjaan pengem-bangan masyarakat, antara penyuluh pertanian dengan peneliti, teknologi yang dihubungkan tidak berhasil diidentifikasi.

Alasan kedua yaitu kurangnya informasi kualitattif, akibat kerangka pikir peneliti yang menempatkan data kuantitatif sebagai yang terpenting. Informasi untuk menyatakan masalah teknologi sering tidak cukup atau bahkan tidak dipunyai. Terakhir, derajat kepekaan gender peneliti, tergantung pada kualitas pelatihan penyadaran gender yang pernah diikuti peneliti. Keikut sertaan peneliti perempuan tidak secara optimis akan mewujudkan penelitian yang sensitif gender. Keilmuan studi perempuan (atau ada yang menyebut studi gender atau studi feminis), kesadaran terhadap masalah gender, kemampuan menganalisis gender, kepekaan gender, perlu dipelajari. Tiadanya kepekaan menyulitkan identifikasi masalah hubungan gender antara laki-laki dan perempuan, serta menyebabkan kebutaan atau miopia terhadap isu perempuan. Kalaupun ada datanya misalnya, tetap saja mereka tidak berkemampuan melihat kebutuhan perempuan. Saito & Spurling (1992) menyebutkan bahwa mengerti peran gender dalam produksi pertanian adalah esensial dalam mengembangkan agenda penelitian. Masalah utamanya yaitu ketiadaan data gender, ada data namun tidak dipergunakan. Dijelaskan lebih lanjut bahwa upaya perlu dilakukan untuk mengumpulkan informasi untuk meningkatkan kebutuhan penelitian pertanian dengan perspektif perempuan. Data yang dikumpulkan harus ber-kemampuan menemukan kegiatan per-tanian dan mengungkap masalah sebagai-mana dinyatakan petani perempuan. Sayangnya tidak disinggung bahwa analisis gender belum mencukupi untuk menganalisis teknologi pertanian.

Berdasarkan riset aksi di daerah lahan kering Jawa Timur: (1) model usahatani dan konservasi tanah lahan kering SELANI TM(YPP 1992; Wijaya 1992), dan (2) pe-ningkatan peranan perempuan dalam proyek pertanian lahan kering Jawa Timur (Wijaya et al. 1995), dimana pendekatan gender dilaksanakan dan teknologi per-tanian dikembangkan, ditemukan bahwa analisis gender saja tidak cukup untuk mengidentifikansi topik teknologi yang perlu dikembangkan. Yang berkemampuan menemukan topik-topik itu adalah obser-vasi lapangan, langkah demi langkah proses produksi budidaya pertanian, peralatan yang dipakai menurut jenis kelamin petani, dan perkiraan kebutuhan praktis petani perempuan. Implikasinya adalah bahwa analisis yang secara spesifik difokuskan untuk mengembangkan tekno-logi pertanian yang peka gender diperlukan. Jelas kebutuhan strategi dan kebutuhan praktis perempuan sebagaimana dikatakan Moser (1986) tidak dapat ditinggalkan. Namun untuk itu pem-berdayaan petani perempuan agar mampu menjelaskan kebutuhannya memerlukan proses tersendiri.

ANALISIS GENDER TENTANG  TEKNOLOGI DALAM USAHA-TANI DI DAERAH SEMI ARID NUSA TENGGARA TIMUR

Dalam hampir semua kasus, perilaku bias lelaki di masyarakat menyebabkan pengabaian perempuan dalam pengembangkan teknologi, termasuk teknologi di sektor pertanian. Teknologi distereotipi sebagai dunia laki-laki. Jangankan teknologi, dalam literatur keilmuan pertanian,  secara umum petani perempuan sering tidak dimunculkan (lihat Stevens & Jabara 1988). Terlepas dari perannya di dalam kegiatan pertanian, peteni perempuan adalah sumberdaya manusia yang tidak ternampak dan terabaikan. Kepekaan gender dibutuhkan untuk menghapus kebutaan isu perempuan, yang dapat dilakukan melalui pelatihan pemahaman dan penyadaraan gender. Pelatihan tersebut pada pejabat di semua jenjang birokrasi, peneliti, penyuluh pertanian, dan petugas lapang menjadi prasyarat.

Sehubungan dengan teknologi, karena pendekatan kebutuhan praktis dan kebutuhan strategis serta profil aktivitas (Moser & Levy 1986; Moser 1993) sebagaimana pula analisis gender yang dikembangkan Overholt (1985) belum mampu mengangkat topik penelitian teknologi, maka komponen analisis perlu ditambah. Namakanlah komponen itu: analisis praktek teknologi pertanianTM. Pertanyaan yang perlu dijawab mencakup:

  1. Apakah teknologi yang dipraktekkan dalam proses produksi dan pascapanen saat ini oleh petani perempuan ?
  2. Apakah alat-alat pertanian yang dipergunakan oleh petani perempuan dan lelaki?
  3. Apakah kebutuhan petani perempuan dalam proses produksi, pascapanen, pengolahan hasil pertanian, pemasaran dan kebutuhan praktisnya untuk memenuhi peran gendernya maupun keperluan pribadinya sebagai petani profesional?

Analisis dapat berfokus pada ketepat-gunaan teknologi yang dipraktekkan, peralatan, kerja yang memberatkan, monoton, menyita banyak waktu, produkstivitas rendah, sekaligus kesesuaiaan dengan kebutuhan perempuan.

Kriteria Ilmu Pengetahuan dan Teknologi berkepekaan Gender

Ilmu Pengetahuan Teknologi yang tepat guna bagi perempuan adalah yang berkriteria :

  • meringankan beban kerja perempuan;
  • tersedia untuk perempuan
  • tidak menggusur perempuan
  • meningkatkan produktivitas;
  • menguntungkan perempuan.

Dalam proses penemuan teknologi itu, petani perempuan perlu dilibatkan secara partisipatif sejak penelitian dan pengembangannya. Dokumen Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1985 berjudul Forward Looking Strategi (FLS) masih merupakan dokumen  yang tepat sebagai acuan dalam pengembangan dan penyebar-luasan teknologi (lihat FSL paragrap 174, 181, 183, 184 dalam lampiran 1)

Pendekataan, prosedur penelitian dan pengembangan keilmuan

Untuk meyakinkan bahwa teknologi yang dikembangkan tepat guna bagi petani perempuan, metodologi penelitian dengan pendekatan partisipatori dengan mereka harus dilakukan,  sejak identifikasi ke-butuhan sifat atau karakteristik yang spesifik dari suatu produk pertanian, selama proses penelitiannya, hingga di-seminasi dan penyuluhannya. Prosedur yang dapat dipertimbangkan yaitu:

  1. bekerja bersama kelompok petani perempuan di daerah yang ber-sangkutan;
  2. diskusi kelompok terfokus tentang kerja pertanian yang tradisonal, kerja rumah- tangga, dan peralatan yang dipergunakan yang mungkin menguntungkan bila dikembangkan;
  3. Petani perempuan diajak berkonsultasi dan diajak mengambil keputusan mengenai teknologi yang tepat bagi mereka
  4. Tergantung dari keadaan teknologinya, petani perempuan sendiri yang seharusnya diberi kesempatan menentukan bagaimana alat baru atau teknologi itu diperoleh mereka. Ada kemungkinan mereka mampu mengkontruksi sendiri teknologi sederhana.
  5. bila teknologi dikembangkan oleh lembaga penelitian formal, para penelitiannya harus responsif pada kebutuhan perempuan untuk mengatasi masalahnya, dan mereka perlu dilibatkan dalam seluruh proses sejak awal hingga penerapan teknologi yang berhasil dikambangkan . Di saat ini, dalam dunia berbudaya patriarkhi, situasi androsentris ditambah lagi keilmuan Studi  Perempuan belum dikenal banyak orang, melibatkan petani perempuan dalam proses penelitian adalah syarat yang tak mudah dipenuhi. Keberanian memulai diperlukan. Melibatkan petani saja, dikatakan Saito & Spurling (1992):

”….bertentangan dengan budaya ilmuwan dan meremehkan kehormatan logika petani serta pengetahuan lokal yang asli”2

Apatah lagi bila petani itu adalah petani perempuan, yang tidak ternampak dan inferior dibanding dengan petani lelaki.

tani wntaSebagai metoda baru, suatu proses tersendiri dibutuhkan. Antara lain bahwa  penelitinya adalah  interdisiplin, termasuk pakar Studi Perempuan yang masih merupakan bidang keilmuan baru. Kebaruan seperti halnya  belajar dari petani perempuan dan  menerima sebagai rekan setara serta kesediaan bekerjasama dengan petani perempuan bukan hal yang mudah bagi penelti pengembang teknologi pertanian konvensional. Penugasan peneliti dan staf perempuan untuk mengem-bangkan ekspertis untuk mengembangkan IPTEK dan    petani perempuan sudah saatnya dilakukan. Proses penyadaran dan kepekaan gender adalah keharusan, lebih-lebih bila merekapun, meskipun perempuan, menginternalisasi ideologi gender. Tak terbatas pada peneliti perempuan, karena laki-laki yang feminis tak usah diragukan, pun  akan mampu melaksanakannya. Di awalnya memang tidak mudah, namun terbukti dapat dilaksanakan. Setidaknya secara empiris telah dicoba dikalangan petani lahan kering Jawa Timur dalam proyek: (1) pengembangan model SELANITM Model (YPP 1992; Wijaya 1992); dan (2) Peningkatan Peranan Perempuan dalam Proyek Lahan Kering di Jawa Timur (Wijaya et al. 1995)

Penyuluhan Teknologi Baru

Dampak dari teknologi terhadap perempuan perlu dievalusi pengaruhnya secara langsung dan tidak langsung, dan dampak jangka pendek dan panjang. Fresco (1985) memperhatikan dampak sebagai berikut:

  1. peran dan kedudukan perempuan dalam sistem pertanian yang khas, termasuk aksesnya pada sumberdaya dan pola distribusi sumberdaya dan pendapatan antar individu dalam keluarga;
  2. Faktor eksternal yang berpengaruh pada produk pertanian, seperti harga faktor produksi dan produk pertanian, kendala lingkungan dan peraturan pemerintah;
  3. dampak berkaitan dengan karakteristik teknologi sebagai berikut :
  • teknologi hemat lahan dan hemat tenaga input biokimia, irigasi air-tanah, padi produksi tinggi;
  • teknologi pascapanen yang hemat tenaga seperti penggilingan, pengeringan, pembersihan produk;
  • teknologi yang membutuhkan lahan luas, misalnya traktor, alat dengan tenaga hewan;
  • perubahan tehnik budidaya seperti perubahan jenis tanaman, pola tanam, tambahan jenis tanaman cepat produksi.

Sejak secara empiris terbukti tidak semua teknologi menguntungkan perempuan, dampak negatif perlu dikaji, diantisipasi dan dicarikan jalan keluarnya.

Dalam rangka penyebar-luasan teknologi baru, karena perilaku bias lelaki, kecil kemungkinannya penyuluh pertanian untuk menempatkan perempuan sebagai target (Wijaya 1993). Upaya serius diperlukan agar petani perempuan diakui, dihormati dan diperlakukan setara dengan laki-laki dalam penyuluhan. Untuk itu, semua lembaga yang berkaitan dengan penyuluhan  perlu menyadari isu gender petani perempuan (Longwe 1995). Proses penyadaran dan kepekaan gender dibutuhkan. Bagi ekonom pertanian, proses  sosial ini adalah syarat kecukupan, termasuk mempelajari dan secara aksiologi menerapkan keilmuan Studi Perempuan.

KEBUTUHAN PETANI TEN-TANG PRODUK PERTANIAN BERSIFAT MULIA DI DAERAH SEMIARID NUSA TENGGARA TIMUR (NTT) RESPONSIF GENDER.

Ada 2 kelompok petani, yaitu petani laki-laki dan petani perempuan. Di NTT, keduanya bersana-sama terlibat dalam pembudi-dayaan   pertanian semiarid.  Teknologi pertanian lokal adalah secara tradisional di mana  telah berlangsung turun-temurun berabad- abad  lamanya tanpa seorangpun tahu sejak kapan teknologi ini mulai diterapkan. Temasuk dalam kategori ladang berpindah dengan rotasi minimum tiga tahun, sistemnya dikenal dengan nama ”salome” (satu lubang rame-rame). Teknologi ini tergolong usahatani organik, karena tidak memakai pestisida maupun pupuk buatan sama sekali. Dari teknologi tersebut petani memproduksi jenis biji-bijian, namun juga  pangan  bergizi terdiri dari  bijian sumber karbohidrat, sayuran hijau dan kuning, serta kacang-kacangan sumber protein nabati. Sebagai  perpaduan antara unsur budaya dan upaya bertahan hidup di daerah semiarid bagi tanaman dan para petani sendiri, teknologi ini secara logis ternyata secara positip  adalah peduli lingkungan, meskipun selalu dikritik merusak lingkungan akibat sistemnya yang menggunakan  pembakaran tanaman liar yang telah mereka tinggalkan karena .

Pertama-tama, di akhir musim kering yang panjang dan lama lahan ditebas dan kemudian dibakar, untuk menyucikan bumi, sebelum ”dihamili” oleh biji-biji tanaman yang disebar. Metode penanaman dilahan kering dengan pengairan tergantung hujan, dilakukan sampai hujan turun secara terus menerus selama 3 hari berturut-turut. Hujan pertama diharapkan mendinginkan ibu bumi dari kepanasan akibat pembakaran, sekaligus membasuh bumi dari segala hama dan penyakit. Hujan hari kedua dimaksudkan untuk menyembuhkan keretakan tanah akibat musim kering yang lalu. Baru pada hari ketiga air hujan diperuntukkan bagi tanaman. Penanaman yang diawali dengan penaburan benih dianalogikan dengan proses reproduksi antara lelaki dan perempuan. Peran lelaki membuat lubang dengan kayu panjang yang menyimbulkan alat kelamin laki-laki, sementara perempuan menempatkan benih di lubang, menyimbulkan bagian reproduksi perempuan. Masing-masing lubang diisi dengan sedikitnya 9 butir benih terdiri atas jagung, labu dan kacang panjang, setidaknya 3 butir setiap jenisnya. Adapun tujuan dan manfaat yang diharapkan adalah :

  1. tujuan konservasi tanah, menahan erosi tanah lereng;
  2. adanya sistem perakaran saling membelit yang mampu membantu memahami filosofi sistem usaha tani asli ini menguatkan tanaman dari keganasaan badai;
  3. diharapkan mampu menyisakan 1- 2 batang jagung, pangan pokok penduduk, dari amukan badai;
  4. belitan kacang pada jagung membuat jagung tegak berdiri;
  5. teknologi praktis, hemat biaya dan hemat tenaga; jagung merupakan tegakan bagi kacang untuk membelit ke atas;
  6. keterjaminan pangan penduduk terdiri atas kombinasi bijian karbohidrat, kacang dan labu bagi kebutuhan setahun. Ketela pohon ditanaman diantara tanaman, sebagai sumber karbohidrat untuk menghadapi resiko kegagalan panen jagung, agar tidak terjadi bahaya kelaparan ditahun berikutnya. Hujan badai biasanya menghantam pada saat jagung berbunga. Kegagalan pembungaan merupakan sumber kegagalan produksi jagung. Setidaknya 3 batang jagung diharapkan tumbuh untuk bertahan hidup: kesatu untuk disimpan di musim kering yang akan datang, kedua untuk pangan segera setelah panen, dan ketiga untuk bibit tahun berikutnya. Jadi dari sisa tanaman yang hidup dapat diramalkan adanya kelaparan dan kekurangan benih. Dari 5 batang jagung yang diharapkan tumbuh, jika badai utara menyerang, 3 batang diharapkan dapat bertahan. Bila badai dengan angin kencang menyerang dari segala arah, setidaknya sebatang jagung diharapkan tersisa.

Batang jagung adalah penyangga yang sudah tersedia bagi jenis kacang-kacangan untuk merambat tanpa membebani petani dengan tambahan biaya dan tenaga. Keuntungan lain jagung lokal adalah daya tahannya untuk dapat disimpan sepanjang tahun dalam kondisi baik hanya dengan menggantungkannya di langit- langit rumah atau di dapur agar dapat di awetkan oleh asap. Varietas jagung jenis unggul biasanya mudah diserap hama pasca masa penyim-panannnya.

Kacang-kacangan terutama jenis kacang panjang mempunyai fungsi ganda, daun hijaunya adalah sumber sayuran hijau sementara kacangnnya adalah sumber protein sepanjang tahun, jika cukup turun hujan. Petani akan mendapatkan cukup sayuran hijau dan meskipun tidak dikonsumsi secara cukup akan tetapi mereka mempunyai cukup banyak kacang-kacangan. Tanaman  tersebut juga berfungsi sebagai penyedia Nitrogen melalui fiksasi Nitrogen oleh bakteri didalam tanah.

Sementara itu, labu dengan karakter daunnya berfungsi sebagai tanaman penutup untuk konservasi tanah di lereng dari erosi hujan deras. Labu sendiri adalah sumber dari sayuran kuning sepanjang tahun. Petani juga mempergunakan panjang sulurnya untuk memprediksikan masa paceklik yang akan datang angin keras dan hujan badai yang merusak. Akibatnya produksi makanan akan menurun.

Setelah penanaman yang dianggap sebagai aktivitas reproduksi, lahan harus dibiarkan beristirahat dan memulihkan keadaannya. Petani membiarkan waktu minimum tiga tahun untuk menjadikan lahan tersebut perawan kembali dan dinilai cukup mampu untuk menjalankan peran reproduksinya lagi. Dengan cara ini, lahan dilestarikan dan pertanian juga berjalan berkesinambungan. Selama proses produksi, perempuan memainkan peran penting dalam merawat tanaman, panen dan kegiatan pasca panen.

Di bawah kebijakan politik untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan taraf hidup masyarakat, para petani diharapkan meningkatkan penerapan teknologinya. Dalam suatu diskusi kelompok yang terfokus bersama petani perempuan, tibalah pada kesimpulan bahwa mereka membutuhkan :

  1. Tanaman produksi tinggi;
  2. Semua produk yang dapat diawetkan dengan baik selama satu tahun dalam penyimpanan;
  3. Tanaman dapat bertahan menghadapi iklim yang keras terutama angin kencang;
  4. Penyerbukan dapat terjadi meskipun dihambat oleh hujan deras dan angin kencang;
  5. Konservasi tanah tidak diabaikan;
  6. Teknologi baru tidak lebih mahal daripada yang digunakan sekarang;
  7. Teknologi baru menghemat tenaga, namun tidak menggantikan peran perempuan;
  8. Selera yang ciocok adalah pada rasa, warna dan ukuran biji-bijian dan kacang-kacangan yang ditanam pada saat ini.

Kondisi ini harus dipenuhi secara holistik. Para petani perempuan tidak mampu menanggung resiko kegagalan panen dengan menanam tanaman yang baru diperkenalkan dari luar daerah demi keamanan pangan dari musim  ke musim. Pengalaman di masa lalu masih menimbulkan trauma bagi mereka ketika varietas jagung Arjuna diperkenalkan dengan teknologi monokultur pada tahun 1980-an. Terjadi kegagalan panen akibat ambruknya jagung akibat terpaan angin. Lebih lanjut jagung yang sempat di panen dikatakan gagal, ketika ternyata terjadi masalah pasca Panen. Kerusakan jagung terjadi karena hama yang menyerang butiran jagung  dalam masa penyimpanan kurang dari 3 bulan Sungguh fatal akibatnya, kegagalan produksi jagung dan  kacang mengakibatkan kelaparan yang paling parah dalam kehidupan petani yang menjadi informan. Oleh karena itu mereka tidak ingin teknologi asli tersebut diganti. Pembaharuan apapun harus didasarkan pada teknologi ini. Secara spesifik disebutkan filosofi bahwa dalam produksi tanaman melalui kapasitas reproduksi lahan tidak boleh menyakiti/melukai bumi harus dipertahankan. Ibu bumi harus dilestarikan. Lahan harus dibiarkan pulih setelah bereproduksi.

Apakah kita, para ilmuwan khususnya para pembudidaya pada umumnya dan pemulia tanaman pada khususnya siap untuk memikul tugas ini secara partisipatori dengan para petani perempuan? Tantangan ini telah di lontarkan dalam suatu konperensi internasional tentang Pembangunan Pertanian di Daerah Semi Arid Indonesia Timur. Tidak ada seorangpun yang berani menjawab tantangan ini pada tahun 1996. Limabelas tahun sudah berlalu. Hingga kini belum ada seorangpun memberikan jawaban.

KESIMPULAN

Karena kurangnya kesadaran gender, dalam proyek pengembangan pertanian biasanya perempuan tidak diikut sertakan sebagai peserta, dan dalam program rutin mereka tidak dianggap sebagai kelompok sasaran. Analisis gender pada saat ini tidak dapat mengidentifikasi teknologi pertanian yang dikembangkan dengan perspektif perempuan. Oleh karena itu, diusul-kannyalah analisis gender yang lebih sesuai, yaitu analisis teknologi praktis. Pertanyaan dalam analisis ini adalah :

  1. apakah teknologi praktis dan prosedur yang diterapkan dalam produksi pertanian dan kegiatan pasca panen saat ini?
  2. alat-alat apakah yang tersedia bagi petani perempuan dan petani pria?; dan
  3. apakah kebutuhan petani perempuan berkaitan dengan proses produksi, produk, pasca panen, pemasaran, dan kebutuhan lainnya dalam perannya yang didikte paham gender sebagai ibu, isteri, pengurus rumah tangga, dan juga kebutuhannya pribadi sebagai petani profesional.

Pendekatan komperehensif dalam analisis seharusnya;

  • dikembangkan untuk menyatukan isu sosial ekonomi, budaya dan lingkungan yang lebih luas;
  • dikaitkan dengan perencanaan pemba-ngunan menyeluruh;
  • dilembagakan melibatkan perempuan dalam;
  • penelitian untuk mengembangkan teknologi pertanian, uji coba teknologi adopsi teknologi, dan proses diseminasi;
  • mempertimbangkan teknologi asli yang ada, termasuk filosofi populer seperti jaminan kelestarian lingkungan.

Lima tahun kemudian, Kloppenburg (2009)  menyatakan pandangan serupa ketika meneliti penggunaan Ilmu Pengetahuan lokal dalam rangka merekonstruksi Ilmu Pengetahuan Pertanian untuk menghasilkan pertanian alternatip.

Tampaknya kepedulian terhadap petani perempuan dalam mengembangkan teknologi pertanian adalah kesadaran akan peran utama yang diemban petani  perempuan adalah kunci. Para penelitinya  harus menyadari arti penting  keterlibatan perempuan secara langsung, dan mereka juga mengenali kompleksnya masalah partisipasi perempuan dalam mengem-bangkan teknologi pertanian. Bagi para peneliti bidang agronomi, genetika, ilmu Tanah dan ilmu Proteksi Tanaman, secara terintegrasi mempelajari Studi Perempuan yang sifatnya interdisipliner dengan paradigma baru dalam melakukan pene-litian mereka adalah keharusan. Se-sungguhnya hal ini merupakan tantangan hingga sekarang. Selayaknyalah  Ilmu Pengetahuan  diproduksi berdasarkan epistomologi feminis yang menggunakan  hati, pemikiran dan tangan yang peduli terhadap perempuan sebagai separuh manusia di dunia ini. Tentu hal ini belum menjadi bagian, atgau bahkan bertolak belakang dari ilmu pengetahuan patriarkhis yang kontemporer  sekalipub (Rose, 1983). Dijelaskan oleh Kloppenburg (2009) bahwa ilmuwan feminis secra epistomologis  bisa jadi justru superior secara intrinsik Hal ini merupakan konsekuensi logis, karena IPTEK tersebut dihasilkan  berdasarkan pengalaman perempuan yang berkaitan dengan kehidupan nyata (grounded) . Dalam dunia berbudaya patriarkhi di mana perempuan invisible, produk pengetahuan dan teori yang dikembangkan akan menjadi sangat khusus.

Makalah ini pertama kali disampaikan 15 tahun yang lalu dalam International Conference on  Agriculture Development in the Semi Arid East Indonesia tahun 1996. Ternyata hingga kini,  di tahun 2010, belum ditemukan adanya para ahli yang menjawabnya, setidak-tidaknya mencoba  meneliti untuk merespon kebutuhan petani perempuan NTT tentang produk pertanian dengan sifat-sifat tertentu tanpa meninggalkan teknologi lokal yang sudah menjadi tradisi itu.  Dalam era teknologi komputer dewasa ini, siapapun  bisa menelusurinya  lewat dunia maya sudahkah terjadi perkembangan mutakhir dari teknologi pertanian berperspektip perempuan. Bisalah diteliti mengapa ilmuwan agronomi pada umumnya dan para pemulia tanaman belum menyentuhya. Pada saat ini spekulasi yang bisa dilakukan adalah bahwa isu perempuan dan bidang keilmuan yang lintas bidang itu belum dikenal secara luas.

Pengembangan sifat produk baru sesuai cita-cita petani perempuan   tergan-tung pada proses teknis dan sosial, yang interdisipliner dengan ilmuwan Studi Perempuan sungguh menjadi keharusan.. Untuk itu diperlukan kesediaan dan  komitmen jangka panjang para peneliti lintas disiplin ilmu teknis pembudidaya tanaman  yang sensitif gender dan mengembangkan metodologinya tidak saja yang biasa secara konvensional mereka lakukan, akan tetapi secara holistik menerapkan Metodologi  Penelitian ber-perspektip Feminis bersama dengan petani perempuan dan anggota masyarakat lainnya.

 DAFTAR PUSTAKA

Nendissa, D.R., Pellokilla, M.R., dan Tae, A.S.J.A. 1992. Laporan Penelitian: Peranan Perempuan Tani dalam Usahatani Lahan Kering di Pulau Rote Nusa Tenggara Timur. Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana. Kupang

Akib, W.; Momuat, Ch.J.S; Saenong, S.; Subandi, dan Darmawan, D. 1994. Peran Perempuan dalam Sistem Usaha Tani di Nusa Tenggara Timur (Suatu Analisis Gender). Badan penelitian dan Pengembangan Pertanian. Proyek Pembangunan Penelitian Nusa Tenggara  (P3NT/NTASP).

Balakrishnan, Revathi. 1992. Reorientation of Home Economics Rural Development in Developing Countries: A Technology Transfer Training Approach. FAO. Rome

Bhaskar,B.N.1987. “Technology and Gender. Women’s Studies Unit, UPM & Malaysian Science Association. Kuala Lumpur”

Castillo, Gelia T. 1988. “Some General Impressions and Observations from Trips to India, Nepal, Bangladesh, Thailand, Indonesia and the Philippines”, dalam Filipino Women in Rice Farming Systems. Universities of the Philippines at Los Banos ; International Rice Research Institute for Development Studies Los Banos

Collier, William L. Wiradi, Gunawan, dan Soentoro. 1973. “Recent Changes in Rice Harvesting Methods”. Bulletin in of Indonesian Economic Studies No.9; 36-65.

Deere, Carmen D., dan Leon , Magdalena. 1987. Rural Women and State Policy: Feminist Perspectives on Latin American Agricultural Development. Westview Press. London

Feldstein, Hilary S., Poats, Susan V., Cloud, Kathleen, dan Norem, Rosalie H. 1989. “Conceptual Frame Work for gender Analysis in Farming Systems Research and Extension”. Dalam: Feldstein Hilary S., Poats, Susan V (eds), Working Together: Gender Analysis in Agriculture, Volume 1:Case Studies. Kumarian Press, Conecticut. pp. 7-37

Fresco, L. 1985. “Food Securoty and Women: Implication for Agri-cultural Research’, International Workshop on Women’s Role in Self-Sufficiency and Food Stra-tegies, 14-19 January 1995, Paris. Dalam: van Walsum, Edith. Gender Issues in Agriculture. Wageningen Agriculture University.

Hill, Poly. 1986. Development Economic on Trial: Anthropological Case for  Prosecution. The Canbridge.

Kloppenburg, J. (2009) Social Theory and the Deconstruction on Agricultural Science: Local Knowledge for an Alternative Agriculture, dalam Geographical Thought: Praxis Perspective (Ed. Henderson George dan Marvin Waterstout),pp. 248-262

Kuznets. Simon S. 1968. Toward a Theory of Economic Growth. Norton. New York.

Longwe, Sara H. 1995. A Development Agency as a Patriarchal Cooking Pot: The Evaporation of Policies for Women’s Advancement. Seminar Women’s Right and Development: Vision and Strategy for the 21 st Century, 24 May 1995. Organised by One World Action. Wolson College, Oxford.

Moser, Caroline O.N. 1985. “Gender Planning in the Third World: Meeting Practical and Strategic Needs”. Dalam “ World Development. Pergamon Press New York

_________. 1993. Gender Planning and Development: Theory Practice and Training. Routledge, London

__________. dan Levy, Karen. 1986. A Theory and Methodology of Gender Planning: Meeting Women’s Practical and Strategic Needs University College, London.

Mulyadi, Agus, Wahyuni, S. Rachmawati, S. Silitonga S, Sukarsih, dan Suparyanto, A. 1993. Peranan Perempuan dalam System Usaha tani di Jawa dan Bali. Proyek Pembangunan Penelitian Pertanian Nasional Bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengem-bangan Peternakan. Badan Pene-litian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.

Pellokila, Christoffel M., Kaunang, Salmijati, dan Slamet. 1994. Peranan Perempuan Pedesaan dalam Usahatani Lahan Kering di Empat Zone Agroekologi Timor Barat, Nusa Tenggara Timur. Laporan Penelitan, Pusat Studi Penelitian, Lembaga Penelitian, Universitas Nusa Cendana Kupang.

Saito, Katerine A., dan Spurling, Dhapne. 1992. Developing Agricultural Extension For Women Farmers. World Bank Discusion Papers No. 156. The Worlk Bank, Washington D.C.

Shiva, vandana. 1993. The Violence of the Green Revolution. Third World  Network, Penang.

Timmer, Peter. 1973. “Rice Milling in Java”. Bulletin of Indonesia Economic Studies No.9:74-85

van Walsum, Edith. 1989. Gender Issues in Agriculture. Department of Gener Issues in Agriculture, Wageningen Agriculture University, Wageningen.

Wijaya, Hesti R. 1985. “Women’s Access to Land Tenure System”. Dalam : Women in Rice Farming System. IRRI. Gower Publishing Company Ltd., Aldfershoot

________. 1992. Soil Conservation Farming System with Women’s Perspective. Global Forum for Environment, Rio de Janeiro, 3-14 June 1992.

________. 1993. “Sumber Daya yang Terabaikan: Perempuan Tani dalam Penyuluhan Pertanian”. Masyarakat Indonesia No.2: 233-256.

________., Juliati, Jajuk, Santoso. Heru. Idris Susrini, dan Widyanto. 1995. Peningkatan Partisipasi Perempuan Tani dalam Proyek Pertanian Lahan Kering. Research Report, Research Centre for Women’s Studies. Universitas Brawijaya. Malang.

YPP. 1993 SELANI Models in the Sustainable Up Land Farming System: An Action Research Report the Rural Development Foundation, Malang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s