Fungsi Parlemen

gedung_dpr_mpr2Pada prinsipnya, fungsi parlemen di zaman modern sekarang ini berkaitan dengan (i) fungsi perwakilan, yaitu pertama-tama untuk mewakili kepentingan rakyat yang berdaulat dengan cara duduk di lembaga perwakilan rakyat; (ii) fungsi permusyawaratan bersama dan deliberasi untuk pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan dan untuk mencapai tujuan bersama dalam masyarakat. Kedua fungsi pokok tersebut dijabarkan dalam tiga kegiatan pokok yang selama ini lebih dikenal dan biasa disebut sebagai fungsi parlemen, yaitu (a) fungsi legislasi, (b) fungsi pengawasan, dan (c) fungsi anggaran.

Fungsi legislasi biasa dikaitkan dengan pengertian pembentukan undang-undang. Sebenarnya, fungsi legislasi itu berkaitan dengan kegiatan pembentukan kebijakan publik yang disepakati bersama oleh para wakil rakyat atas nama seluruh rakyat yang diwakili. Hanya saja, agar kebijakan-kebijakan itu bersifat mengikat, maka dituangkan dalam bentuk hukum tertentu sebagai ‘legislative acts’, yaitu dalam bentuk undang-undang. Karena itu, fungsi legislasi itu disebut sebagai fungsi pembentukan undang-undang. Bahkan karena esensialnya fungsi legislasi ini, lembaga parlemen itu sendiripun dalam bahasa Inggris disebut ‘legislature’.

Untuk melaksanakan kebijakan yang dituangkan dalam bentuk undang-undang yang mengikat itu, diperlukan langkah-langkah lanjutan, yaitu (i) dalam bentuk peraturan pelaksanaan (executive acts), dan (ii) dalam bentuk program aksi (executive actions). Setiap undang-undang pertama-tama harus dijabarkan dalam bentuk peraturan-peraturan pelaksanaannya, seperti Peraturan Pemerintah (PP), Peraturan Presiden (Perpres), dan peraturan-peraturan lembaga-lembaga pelaksana undang-undang lainnya. Selain itu, semua kebijakan yang tertuang dalam undang-undang itu harus pula tercermin dalam program aksi yang terwujud dalam bentuk dukungan anggaran dalam APBN dan APBD.

Yang terakhir adalah fungsi pengawasan. Fungsi pengawasan parlemen itu berkaitan dengan (i) pengawasan mengenai sejauhmana pelbagai kebijakan yang tertuang secara mengikat dalam bentuk undang-undang itu dijabarkan sebagaimana mestinya dalam pelbagai peraturan pelaksanaannya, (ii) pengawasan mengenai sejauhmana kebijakan-kebijakan itu tercermin dalam bentuk program yang didukung anggaran dalam APBN dan APBD, (iii) penagwasan mengenai implementasi pelbagai peraturan perundang-undangan itu dalam praktik di lapangan, dan (iv) pengawasan terhadap kualitas pelaksanaan program yang telah ditetapkan dalam APBN dan APBD dalam kenyataan.

FUNGSI ANGGARAN

Dari uraian di atas dapat dikatakan bbudgetahwa fungsi anggaran DPR terkait erat dengan fungsi legislasi dan fungsi pengawasan. Fungsi legislasi menetapkan kebijakan yang harus dijadikan pegangan dalam penyusunan program dan anggaran. Sedangkan fungsi pengawasan bertindak mengawasi kualitas pelaksanaan APBN dan APBD di lapangan. Dalam praktik, tentu diperlukan pembedaan yang jelas mengenai pengawasan terhadap pelaksanaan APBN dan APBD itu di lapangan, sampai sejauhmana kegiatan pengawasan dimaksud merupakan bagian dari fungsi pengawasan atau merupakan bagian dari fungsi anggaran. Panitia Anggaran DPR tentu saja perlu mempertimbangkan pelbagai informasi mengenai pelaksanaan anggaran di lapangan, tetapi harus dimengerti bahwa informasi semacam itu diperlukan oleh Panitia Anggaran dalam rangka penyusunan anggaran berikutnya. Artinya, pengawasan terhadap pelaksanaan APBN dan APBD itu di lapangan memang bukan merupakan bagian dari fungsi anggaran, melainkan merupakan bagian yang penting dari fungsi pengawasan.

Yang terkait dengan fungsi anggaran DPR adalah hal-hal yang berkenaan dengan pelaksanaan kebijakan dalam bentuk program-program kerja pemerintahan dan pembangunan untuk mencapai tujuan bernegara sebagaimana ditentukan dalam UUD 1945. Karena itu, pelaksanaan fungsi anggaran DPR haruslah dimulai dengan penjabaran pelbagai kebijakan-kebijakan yang tertuang dalam bentuk hukum yang berlaku berupa program-program kerja pemerintahan dan pembangunan. Di samping itu, penyusunan program-program pemerintahan dan pembangunan itu dapat pula dirumuskan dengan mengacu kepada kebutuhan empiris yang ditemukan dari lapangan yang untuk selanjutnya dirumuskan menjadi program kerja yang dikukuhkan dalam bentuk hukum yang berlaku mengikat untuk umum.
Dengan demikian, program pemerintahan dan pembangunan disusun dengan mendasarkan diri pada peraturan perundang-undangan dan berlaku atau yang disusun berdasarkan kebutuhan empiris yang dikukuhkan menjadi produk hukum yang mengikat.

Karena itulah maka setiap program pembangunan nasional tahunan selalu dituangkan dalam bentuk UU APBN, sedangkan program pembangunan daerah dituangkan dalam bentuk Peraturan Daerah tentang APBD. Penyusunan materi APBN dan APBD itu haruslah dimulai dengan menjabarkan materi kebijakan hukum yang berlaku dalam bentuk program-program kerja operasional di bidang-bidang pemerintahan dan pembangunan, di samping mendasarkan diri pada analisis kebutuhan akan program dan proyek yang direkomendasikan dari pengalaman empiris di lapangan. Dengan demikian, setiap program dan proyek yang dirumuskan haruslah mengikuti urutan logikanya benar, yaitu:

  1. Program atau kegiatan apa saja yang harus dikembangkan dalam rangka pelaksanaan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
  2. Program apa saja yang mesti dikerjakan dalam rangka program-program pembangunan yang dibutuhkan dalam masyarakat;
  3. Berapa anggaran yang diperlukan dan bagaimana distribusi dan alokasinya untuk pelaksanaan program dan proyek-proyek pembangunan tersebut;
  4. Berapa dan bagaimana pendapatan negara dapat memenuhi kebutuhan akan anggaran belanja negara tersebut;
  5. Apa saja yang mesti dilakukan sehingga program-program kerja yang telah disepakati dengan dukungan anggaran yang tersedia dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya secara efektif dan efisien dengan kualitas pengeluaran (quality of spending) yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pelaksanaan fungsi anggaran DPR itu tidak hanya berkaitan dengan persoalan angka-angka anggaran pendapatan dan belanja negara/daerah serta bagaimana distribusi dan alokasinya untuk pelaksanaan program-program pemerintahan dan proyek-proyek pembangunan. Bahkan penyusunan angggaran pendapatan dan belanja tahunan itu harus pula mengacu kepada perencanaan pembangunan jangka panjang dan menengah yang juga dituangkan dalam bentuk undang-undang tersebut. Di masa Orde Baru, perencanaan jangka panjang itu dirumuskan dalam bentuk Garis-Garis Besar Haluan Negara yang dikuatkan dengan baju hukum Ketetapan MPR-RI. Sekarang, setelah reformasi dimana MPR tidak lagi memiliki kewenangan untuk menetapkan Ketetapan MPR yang bersifat ‘regeling’, perencanaan jangka panjang itu dapat terus dituangkan dalam bentuk atau dengan baju hukum Undang-Undang, yaitu UU tentang RPJP dan RPJM yang kemudian dijabarkan setiap tahunnya dengan UU tentang APBN.

anggota_dpr_tidurOleh karena itu, penting disadari bahwa mengenai eksistensi gagasan GBHN itu sendiri di zaman sekarang, tidak perlu dirisaukan seakan-akan ide itu sendiri sudah tidak relevan lagi atau sudah ‘mati’ dan karena itu perlu dihidupkan kembali. Kebutuhan akan GBHN dalam pengertian perencanaan pembangunan berjangka panjang dan berjangka menengah, tetap dapat hidup dan dipertahankan. Yang berubah hanya istilahnya dan baju hukumnya saja. Jikapun istilah GBHN hendak kita hidupkan kembali dewasa ini, juga tetap dapat dibenarkan, asalkan baju hukumnya berbentuk Undang-Undang, bukan lagi Ketetapan MPR yang bersifat ‘regeling’.

Gagasan tentang GBHN yang tertuang dalam bentuk UU itu haruslah menjadi salah satu sumber kebijakan dalam rangka penyusunan Rancangan APBN dan APBD setiap tahun, di samping pelbagai peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku dan harus tercermin dalam bentuk program aksi di bidang-bidang pemerintahan dan pembangunan. Oleh sebab itu, tidak dapat tidak, Badan Anggaran DPR haruslah melengkapi diri sebagai satu institusi perencanaan dan penganggaran yang kuat dan dengan dukungan teknis sumberdaya yag memadai. Harus ada keterkaitan teknis profesional yang erat antara Menteri Keuangan sebagai Bendaharawan Negara dengan Bappenas dan Badan Anggaran DPR. Partai politik dan para wakil rakyat yang duduk di Badan Anggaran DPR-RI harus lah aktif terlibat dalam perdebatan kebijakan (policy debate) dengan pihak Bappenas mengenai substansi program yang direncanakan untuk kepentingan rakyat. Untuk itu, diperlukan mekanisme yang pasti untuk menjamin berlangsungnya perdebatan kebijakan publik (public policy debate) semacam itu secara terbuka.

Apabila perdebatan mengenai substansi program dan gagasan mengenai proyek-proyek yang bersifat pro-rakyat tersebut telah diselesaikan, barulah perdebatan berikutnya dilakukan dengan Kementerian Keuangan sebagai “Government Budget Office” berkenaan dengan angka anggaran pengeluaran dan pendapatan yang mendukung untuk itu. Namun, dalam pelaksanaan di lapangan seringkali berdebatan mengenai kedua hal tersebut tercampur menjadi satu, dan biasanya justru persoalan alokasi angka-angka yang lebih mendominasi, dan bahkan isu-isu mengenai substansi program menjadi tidak tersentuh sama sekali. Perdebatan dan bahkan lobi-lobi dilakukan hanya berkaitan dengan distribusi dan alokasi angka-angka.

Bahkan, akan lebih buruk lagi, apabila perdebatan dan diskusi mengenai alokasi anggaran tersebut hanya didominasi oleh sisi pengeluaran (expenditure), sedangkan sisi pendapatan (revenues) kurang mendapat perhatian. Jika hal demikian terjadi, maka perhatian anggota DPR, khususnya Badan Anggaran akan tersita hanya untuk hal-hal yang berbau angka dan hal-hal yang berbau transaksional tanpa perdebatan substantif untuk kepentingan lebih luas. Apabila hal demikian terjadi, maka bukan tidak mungkin Banggar DPR dapat saja berubah menjadi pusat perencanaan penghasilan pribadi bagi siapa saja bersedia untuk terjebak ke dalam sistem jaringan mafia anggaran.

Harus dicatat bahwa tindakan korup dapat direncakan dengan aman dengan mengikuti semua prosedur hukum yang berlaku. Perencanaan korupsi yang dimaksud dapat saja direncakan mulai dari Badan Anggaran DPR, sebagaimana dulu di zaman Orde Baru, korupsi pernah dimulai dari Bappenas. Dimana angka anggaran ditentukan disanalah para makelar anggaran akan berduyun-duyun datang untuk mengais rizkinya. Sekarang sesudah era reformasi, kekuasaan untuk menentukan alokasi anggaran itu sebagian terbesar ada di Badan Anggaran DPR. Karena itu, saya berharap kiranya para Pimpinan dan segenap anggota Badan Anggaran DPR hendaklah benar-benar berhati-hati untuk terus menerus mempertahankan idealisme ketuhanan, kebangsaan, dan kerakyatan yang tertanam dalam diri setiap anggota Badan Anggaran DPR. Jangan kalah dengan bujuk rayu para setan yang terus berusaha untuk mengganti sila pertama Pancasila, dari Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi Keuangan Yang Maha Kuasa.

Oleh karena itu, mekanisme kerja penyusunan APBN dan apalagi APBD di daerah-daerah perlu dievaluasi, sejauhmana sudah mencerminkan kebutuhan bangsa kita untuk mewujudkan sistem demokrasi yang benar, tetapi tetap menjamin asas-asas tata-kelola yang baik dan benar. Kedaulatan rakyat di bidang anggaran dapat kita tingkatkan, tetapi korupsi dapat benar-benar dicegah sehingga uang rakyat tidak dicuri dan dikorupsi untuk kepentingan orang per orang yang tidak bertanggungjawab dan hanya perduli dengan kepentingan pribadinya sendiri. Jika kita menginginkan ada keseimbangan antara DPR dan pemerintah dalam penyusunan program dan anggaran untuk rakyat, pelaksanaan fungsi anggaran DPR perlu didukung oleh kapasitas kelembagaan yang lebih efektif dan terpercaya.

HAK RAKYAT ATAS ANGGARAN

Jika keseimbangan peran antara DPR dan Pemerintah itu dipandang ideal, dalam penyusunan anggaran, tentu Badan Anggaran DPR haruslah dibangun setara dan sekuat Bappenas. Jika tidak, Badan Anggaran DPR tidak mungkin dapat mengimbangi Bappenas dalam menentukan aneka program dan proyek-proyek pembangunan untuk kepentingan rakyat. Pemerintah menyusun program pembangunan dari kacamata pemerintahan, sedangkan para wakil rakyat dapat menyusun program-program pro-rakyat itu dari kebutuhan yang mereka temukan di lapangan, tempat rakyat hidup sehari-hari.

Dalam pengalaman sejarah di Amerika Serikat, sebelum tahun 1974, kedudukan Pemerintah memang jauh lebih kuat dalam proses penyusunan program dan anggaran. Karena itu, pernah terjadi ketika Presiden Nixon terpilih, dia tidak mau membiayai program yang sejak sebelumnya sudah resmi dianggarkan. Untuk menghadapi sikap Nixon, Kongres sama sekali tidak mempunyai senjata untuk memaksakan pembiayaan program yang sudah disepekati itu sehingga menyebabkan hubungan Presiden dengan Kongres menjadi kurang baik. Bahkan ketika terjadi kasus Watergate yang sangat terkenal, dengan mudah Kongres menyepakati pengesahan UU baru (Congressional Budget and Impoundment Control Act of 1974) yang membentuk “The Congressional Budget Office” (CBO) yang memberikan kekuasaan yang lebih kuat kepada Kongres untuk mengontrol anggaran dan mengurangi kewenangan “The President’s Office of Management and Budget”.

Sejak itu, sampai sekarang, kekuasaan Kongres dalam menentukan anggaran menjadi semakin kuat, sehingga menggambarkan bahwa hak budget para wakil rakyat Amerika Serikat benar-benar menggambarkan asas kedaulatan rakyat di bidang keuangan. Rakyat dipandang mempunyai kedaulatan dan memegang kekuasaan tertinggi, bukan saja atas kewenangan membuat hukum, tetapi juga dalam menguasai kekayaan dan keuangan negara, sehingga apapun yang harus dikeluarkan harus mendapat persetujuan dari rakyat sendiri melalui perantaraan wakil-wakil mereka di kongres. Negara tidak berhak mengambil hak milik rakyat atau pun membebani rakyat dengan beban kekuangan, kecuali atas persetujuan rakyat sendiri melalui undang-undang.

Prinsip yang sama juga berlaku dalam sistem UUD 1945. Rakyat Indonesia berdaulat dalam mengatur dan membuat undang-undang yang mengikat dirinya dengan kewajiban dan membebani dengan harta benda milik warga. Karena itu dalam Pasal 23A UUD 1945 ditentukan bahwa “Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara diatur dengan undang-undang”. Mengapa harus dengan UU, karena pembeban pajak dan pungutan memaksa itu hanya dapat dilakukan atas persetujuan rakyat sendiri. Demikian pula mengenai APBN, dalam Pasal 23 ayat (1) UUD 1945 ditentukan bahwa “Anggaran pendapatan dan belanja negarta sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggungjawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Penetapan APBN itu harus dengan UU dalam arti harus bahwa penetapan APBN itu harus dilakukan dengan persetujuan para wakil rakyat yang berdaulat, karena keuangan negara itu sendiri merupakan hak milik rakyat.

Pada pokoknya, semua kekayaan dan keuangan negara adalah milik rakyat yang berdaulat, maka pemerintah harus mengajukan permohonan kepada Kongres apabila merencanakan sesuatu pengeluaran dan pemasukan melalui APBN. Pemerintah hanya bertindak sebagai pengurus dan pengelola uang da harta rakyat, selebihnya Pemerintah wajib meminta izin kepada rakyat jika ingin membelanjakannya. Karena itu, di Amerika Serikat, usulan rancangan anggaran itu biasa disebut dengan istilah “budget request” yang akan dijawab oleh Kongres AS dengan “budget resolution”. “Budget resolution” itu sendiri, meskipun mengikat bagi Kongres, tetapi bukan merupakan hukum (a law), karena itu tidak memerlukan tandatangan Presiden untuk pengesahannya. “Budget resolution” itu berfungsi sebagai tanda persetujuan Kongres atas permohonan atau “budget request” yang diajukan oleh Presiden.

Dalam sistem UUD 1945, juga ditentukan bahwa rancangan APBN selalu harus diajukan oleh Presiden, mengingat pemerintahlah yang akan menjalankan pelaksanaan APBN itu sebagaimana mestinya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pasal 23 ayat (2) menentukan. “Rancangan Undang-Undang anggaran pendapatan dan belanja negara diajukan oleh Presiden untuk dibahas bersama DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD”. Rancangan APBN yang diajukan oleh pemerintah itu tidak ubahnya sebagai “budget request” yang dipraktikkan di Amerika Serikat. Jika DPR tidak memberikan persetujuan, maka Pemerintah harus menjalankan anggaran tahun sebelumnya (Pasal 23 ayat 3).

Pendek kata, kedudukan DPR dalam pelaksanaan fungsi anggaran ini sebenarnya sangat kuat. Namun dalam praktik, oleh karena kapasitas kelembagaan DPR juga kurang dilengkapi oleh staf pendukung yang memadai, DPR tidak memiliki kemampuan untuk menyiapkan konsep tandingan atau setidaknya bahan-bahan pembanding terhadap usulan yang diajukan oleh pemerintah. Kebutuhan akan kelembagaan DPR yang kuat di bidang anggaran ini juga mirip dengan kebutuhan yang sama di bidang legislasi yang sekarang telah dilengkapi dengan Badan Legislasi yang tersendiri. Namun, Badan Anggaran dan Badan Legislasi yang ada dewasa ini tidak lebih dari pengelompokan jenis pekerjaan seperti halnya komisi-komisi. Bekerjanya sistem kelembagaan sangat tergantung kepada kinerja individual anggota DPR yang diberi tugas untuk duduk di Badan Anggaran atau pun Badan Legislasi tersebut.

Memang benar, di bidang legislasi, inisiatif utama berada di pihak DPR sebagaimana ditentukan oleh Pasal 20 ayat (1) UUD 1945. Pemegang kekuasaan pembentukan undang-undang ada pada DPR, meskipun Presiden diberi hak oleh Pasal 5 ayat (1) UUD 1945 untuk mengajukan rancangan undang-undang. Namun di bidang anggaran, rancangannya harus datang dari atau diajukan oleh Presiden untuk dibahas bersama DPR dan dengan memperhatikan pertimbangan DPD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) UUD 1945. Perbedaan ketentuan mengenai pemrakarsa ini disebabkan oleh karena anggaran pendapat dan belanja negara itu berisi program-program dengan rencana anggaran pemasukan dan pengeluaran yang yang sudah seharusnya disusun oleh Presiden yang diajukan kepada DPR untuk dibahas dan mendapat persetujuan bersama. Program-program yang direncanakan oleh Presiden itu tidak dapat dilaksanakan apabila DPR dengan hak anggaran yang dimiliki tidak dapat memberikan persetujuan sebagaimana mestinya. Karena itu, sering dikatakan bahwa bidang anggaran ini kedudukan DPR itu sangatlah kuat. Presiden yang mengajukan permohonan atau ‘request’, sedangkan DPR yang memberikan persetujuan atau penolakan, baik secara satu per satu bagiannya ataupun secara keseluruhan rencana anggaran pendapatan dan belanja negara itu.

Namun demikian, dalam praktik, kekuasaan DPR yang demikian besar di bidang anggaran itu sering masih menghadapi banyak kendala sehingga kedudukan DPR dirasakan sangat lemah. Mengapa terasa lemah dan apakah mungkin kedudukan DPR dapat lebih ditingkatkan dalam urusan anggaran ini? Mengenai hal ini, sebenarnya, di bidang legislasi pun kedudukan pemerintah versus kedudukan DPR ini sering dipersoalkan mana yang lebih kuat dan mana yang lebih lemah. Sering berkembang anggapan bahwa DPR sekarang sudah terlalu kuat, melebihi Presiden dalam semua hal, termasuk dalam fungsi legislasi. Ada anggapan bahwa di masa Orde baru berkembang praktik “executive heavy”, sedangkan di masa reformasi berkembang praktik “legislative heavy”. Ada pula yang menganggap bahwa sistem ketatanegaraan kita menganut sistem presidensial, tetapi cita-rasanya parlementer, karena kelemahan dalam praktik penyelenggaraan sistem pemerintahan presidentil selama masa reformasi 13 tahun terakhir.

Semua ini memang ada benarnya dalam kenyataan praktik. Akan tetapi, sebagian terbesar hal itu disebabkan oleh faktor kinerja dan manajemen dalam praktik, bukan karena faktor sistemnya. Secara umum, sistem yang ada sekarang tetap memberikan kedudukan yang sangat besar bahkan jauh lebih besar daripada parlemen. DPR kita dewasa ini terlihat sangat sibuk dan penuh dengan atraksi yang tidak efisien dan tidak produktif untuk kepentingan kemajuan bangsa di segala bidang. Kegiatan DPR sebagian terbesar hanya berisi hiruk pikuk yang menyulitkan posisi pemerintah untuk bekerja dan bertindak. Bahkan dapat dikatakan bahwa sebagian besar kegiatan para anggota DPR lebih tepat dilakukan oleh para staf daripada oleh para pemimpin politik yang mewakili rakyat.

Pendek kata, para pejabat pemerintah menganggap DPR hanya merepotkan, disebabkan karena kedudukan DPR dinilai terlalu kuat sehingga menyulitkan bagi pemerintah. Namun yang menarik ialah para anggota DPR sendiri pada umumnya menganggap bahwa kedudukan DPR justru tidak ada apa-apanya apabila dibandingkan dengan posisi pemerintah. Dengan kata lain, DPR cenderung menganggap Pemerintahlah yang terlalu kuat. Sedangkan pemerintah menganggap DPR lah yang terlalu kuat. Dengan demikian, baik para pejabat pemerintah maupun para anggota DPR cenderung sama-sama merasa lemah dan tidak berdaya. Akibatnya, kedua-duanya memang benar-benar menjadi sama-sama tidak berdaya dan tidak efektif dalam menjalankan tugas-tugas konstitusionalnya masing-masing secara benar dan efektif.

Untuk itu, di masa mendatang, sangat lah baik apabila dapat dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh bahwa Badan Anggaran DPR diperkuat kapasitas kelembagaannya agar dapat mendukung upaya penguatan fungsi anggaran DPR dalam berhadapan dengan pemerintah. Meskipun yang mengajukan Rancangan APBN adalah pemerintah, tetapi untuk membahas rancangan itu secara bersama guna mencapai persetujuan bersama atas materi dan baju hukumnya dalam bentuk undang-undang, kapastias DPR, khususnya Badan Anggaran haruslah cukup kuat dan memadai. Jika kita belajar dari pengalaman Amerika Serikat, pada tahun 1974, bahkan diadakan undang-undang tersendiri yang membentuk dan mengatur kedudukan “Congressional Budget Office” (CBO) dalam struktur internal Kongres. Untuk kita di Indonesia, mungkin perlu dipertimbangkan pengaturan kembali mengenai struktur komisi-komisi dan badan-badan sebagaimana diatur dalam UU MD3, sehingga Badan Anggaran dapat meningkatkan kapastias kerjanya dalam mengimbangi peranan Bappenas dan Kementerian Keuangan sebagai “Presidential Budget Office”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s